Search
  • saudara1negara

CLC Biah, Potret Sekolah Indonesia Terpencil di Pelosok Sabah

Updated: May 18, 2018

SABAH, (PRLM).- Ratusan pelajar community learning center (CLC) Biah di Sabah, Malaysia Timur, terpaksa menempati sembilan ruangan seadanya lantaran tak memiliki cukup anggaran untuk membangun ruang belajar. Parahnya, ruangan-ruangan itu sebenarnya tak layak pakai.

Sudah sejak 2006, ratusan pelajar yang notabene adalah anak-anak pekerja migran asal Indonesia di ladang-ladang sawit kawasan Keningau, Sabah, terpaksa memanfaatkan bangunan bekas gudang yang disekat-sekat dengan kayu dan paku seadanya menjadi sembilan ruang, tanpa tembok.

“Seluruhnya ada 747 pelajar SD dan SMP yang menggunakan sembilan kelas itu, dan agar semua bisa mendapat giliran, jam pelajaran dibagi dua shift. Kelas pagi mulai pukul 07.00 sampai 12.00, dan kelas petang mulai pukul 12.00 sampai tutup sekolah pada pukul 17.00," ucap penanggungjawab CLC Biah, Ibu Bibiana Pulo Beda, kepada Konsul Jenderal RI Akhmad DH Irfan saat berkunjung ke sana bersama tim Satgas Perlindungan WNI KJRI Kota Kinabalu, Sabtu (9/1/2016).

Ruang belajar yang tersedia memang begitu sempit, kumuh dan berdebu. Namun seluruh tenaga pengajar dan murid-murid disana tampak semangat melakukan kegiatan belajar mengajar. Ketidaknyamanan kondisi ruang belajar tertutupi oleh keinginan bersama para orang tua dan guru agar murid-murid CLC Biah berhasil dalam pendidikan dan lebih berwawasan dibanding orang tua mereka yang umumnya hanya buruh kasar pengolah Ladang Sawit yang hanya berpendidikan rendah, atau bahkan buta huruf karena tak pernah mengenyam bangku sekolah.

Cyndi Dokeng, seorang siswa kelas V SD, anak TKI asal NTT yang lahir di Sabah mengatakan : “Ruang kelas kami tak nyaman Bapak,... bising oleh bunyi mesin kayu dan banyak angin karena tak ada tembok. Kami ingin sekolah ini diperbaiki biar bagus, biar nyaman lah kami belajar. Tetapi walau tak nyaman Bapak.... saya senang dan tak mengapa lah karena ibu bilang sekolah tidak bisa dibangun sebab tanahnya milik orang. Kalau boleh Bapak, saya ingin minta lebih banyak guru yang pintar karena saya ingin jadi dokter,” lanjutnya dengan dialek melayu Sabah yang kental.

Sejauh ini pemerintah RI melalui Kemdikbud telah memberikan bantuan untuk kegiatan belajar-mengajar dalam bentuk BOS, BOP dan BSM kepada semua CLC di Sabah termasuk CLC Biah. Menurut Konsul Jenderal RI Akhmad DH. Irfan, bantuan pemerintah sejauh ini hanya sebatas fasilitasi operasional sekolah, sedangkan bangunan CLC diharapkan dapat disediakan perusahaan pemilik ladang. Atau apabila CLC berada di luar kompleks ladang, maka disewakan berdasarkan musyawarah dengan orang tua murid.

"Di era globalisasi sekarang ini masih banyak hal yang perlu dilakukan Pemerintah RI cq. KJRI Kota Kinabalu sebagai fasilitator bagi pendidikan anak-anak TKI di Sabah. Namun kenyataannya, akses terhadap pendidikan bagi anak-anak kita di Sabah belum menjangkau semua. Kita telah membangun Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) sebagai sekolah induk, ditambah 209 CLC di seluruh Sabah sebagai afiliasi SIKK. Seluruhnya hanya mampu menampung sejumlah 23.700 pelajar anak TKI, sementara jumlah anak yang perlu mendapatkan layanan pendidikan diperkirakan mencapai lebih dari 50.000 anak," kata Konjen Irfan.

Lebih lanjut Konjen Irfan mengatakan, permasalahan yang dihadapi untuk membuka akses bagi anak-anak TKI terhadap layanan pendidikan yang seluas-luasnya di Sabah memang pelik dan saling terkait. Selain bangunan yang tak memadai, kekurangan tenaga guru juga menjadi hambatan. Sampai saat ini Kementerian Pendidikan Nasional telah menerjunkan tenaga pengajar sejumlah 323 orang untuk ditempatkan di SIKK dan CLC, tetapi jumlah itu sangatlah kurang. Banyak CLC yang hanya mendapat satu guru untuk ratusan murid. Untuk menutupi kekurangan, CLC-CLC itu merekrut guru lokal yang digaji seadanya hasil urunan para orang tua. Total saat ini di seluruh CLC terdapat 168 guru lokal, dan umumnya mereka hanya berpendidikan SMA.

Dari segi fasilitaspun para guru CLC itu menghadapi masalah dengan minimnya sarana dan prasarana penunjang proses belajar-mengajar di kawasan terpencil. Pernah seorang guru menyampaikan keluhannya melalui media sosial bahwa akibat minimnya moda transportasi beberapa kali dia tidak mengajar karena ketinggalan angkutan umum yang hanya melewati lokasi sekolah dua kali saja dalam sehari. Menteri Anis Baswedan bahkan beberapa kali tampak menyeka airmata ketika bertemu dengan orangtua murid CLC saat berkunjung ke Kota Kinabalu tahun 2014. Saat itu salah satu orangtua murid menceritakan perjuangan mereka disini demi masa depan yang lebih baik, nasib anak-anak mereka yang tidak bisa menikmati fasilitas pendidikan di Malaysia, apresiasi terhadap perhatian pemerintah RI untuk membuka CLC, dan memohon agar pemerintah membantu mengadakan bus sekolah untuk anak-anak.

Bagi para guru sendiri ada masalah tambahan dalam proses belajar-mengajar khususnya ketika musim panen sawit tiba. Musim panen berarti peluang untuk memperoleh uang ekstra, sehingga banyak orangtua yang minta ijin agar anaknya diperbolehkan libur 1 - 2 minggu untuk bekerja sebagai buruh pemungut bijih sawit.

Adalah Ibu Veronica Sida Barek, penanggung jawab CLC Bingkor, Keningau yang mengatakan bahwa guru-guru di CLC selain sebagai tenaga pengajar juga berfungsi sebagai "polisi" bagi keluarga pekerja ladang yang menolak menyekolahkan anaknya. Bu Vero, demikian dia biasa dipanggil, mengatakan sambil tersenyum: "Sebagai guru, selain memikirkan kelancaran belajar-mengajar di sekolah, saya juga terus mendatangi keluarga yang cenderung memaksa anaknya untuk bekerja sebagai pemungut bijih sawit daripada sekolah. Kalau keras kepala, saya tak segan memarahi mereka sehingga oleh banyak orang saya dijuluki polisi sekolah". Gurat-gurat ketegasan nampak nyata dari raut mukanya, namun pancaran matanya menyemburatkan kasih sayang dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak buruh migran Indonesia. Itulah sosok Bu Vero, yang pada tahun 2015 lalu memperoleh penghargaan Hasan Wirayudha Award 2015 dari Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi untuk kategori Pejuang Kemanusiaan di Bidang Pendidikan Anak-Anak TKI.

Sebagai Kepala Perwakilan RI, Konsul Jenderal Akhmad DH. Irfan bersama jajarannya di KJRI Kota Kinabalu senantiasa memanfaatkan peluang yang terbuka untuk mendorong lebih banyak lagi perguruan tinggi Indonesia yang mau menerjunkan mahasiswanya untuk melaksanakan tugas KKN sebagai tenaga pengajar di berbagai CLC di Sabah, setidaknya setiap tiga bulan. Berbagai inovasi dan inisiatif terus dilakukan untuk membantu kekurangan tenaga pengajar di CLC-CLC Sabah ini, termasuk bekerjasama dengan Kemenristek-Dikti membuka program Universitas Terbuka (UT) bagi para guru lokal CLC. Saat ini sebanyak 17 mahasiswa UNS Surakarta sedang menjalani KKN selama 1.5 bulan di delapan CLC yang ada di Sabah. (KJRI Kinabalu/A-147)***

158 views

Recent Posts

See All
Contact Us

Jl. Menanggal

Dukuh Menanggal,

Kec. Gayungsari, Surabaya, Indonesia

HUBUNGI KAMI

© 2019 by Saudara Satu Negara

  • Black Instagram Icon
This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now